NAGEKEO, NTT — Bayang-bayang ketakutan masih membekali di hati warga Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Sejak gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah itu pada Sabtu, 15 Agustus 2026, kehidupan warga belum kembali normal. Bahkan ancaman krisis pangan kini mulai mengintai.
Trauma Belum Hilang, Rasa Takut Masih Menyelimuti
Guncangan dahsyat yang berpusat di laut, 30 km timur laut Mbay, dengan kedalaman hanya 15 km, meruntuhkan ketenangan warga. Meski getaran utama telah berlalu, ketakutan itu belum pergi.
“Setiap kali tanah bergoyang sedikit saja, kami sudah lari berhamburan. Tidur pun tidak nyenyak, takut gempa datang kembali,” ungkap salah seorang warga.
Rumah-rumah yang menjadi tempat berlindung kini tak lagi terasa aman. Sebagian besar warga memilih bermalam di tenda darurat atau di ruang terbuka, menjauh dari bangunan yang dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu.
Persediaan Makanan Semakin Menipis: Ancaman Baru Mengintai
Di tengah trauma yang belum pulih, persoalan baru muncul. Persediaan makanan yang dibawa warga saat mengungsi kini semakin menipis.
Stok beras, lauk pauk, dan bahan makanan pokok yang tersedia di pengungsian tinggal sedikit. Sumber pangan di desa juga terganggu — akses terputus, kebun rusak, dan pasar belum berfungsi normal.
“Makanan yang kami bawa dari rumah tinggal sisa sedikit. Jika tidak segera ada bantuan, kami tidak tahu harus makan apa besok,” keluh warga lainnya.
Panggilan Darurat: Bantuan Harus Segera Tiba
Kondisi ini membutuhkan respons cepat dari pemerintah dan pihak terkait. Warga Desa Ulupulu 1 membutuhkan:
– Pasokan pangan pokok dan makanan siap santap
– Air bersih dan kebutuhan dasar
– Tempat berlindung yang layak dan aman
– Pendampingan psikologis pascabencana
Bencana tidak hanya merenggut bangunan, tetapi juga menggerus ketenangan dan ketersediaan hidup warga. Kini mereka menengadahkan tangan, berharap uluran tangan segera hadir sebelum keadaan semakin sulit.
Nagekeo butuh perhatian. Ulupulu 1 menanti bantuan.
Mari berdoa dan bergerak bersama meringankan beban saudara-saudara kita di NTT.





