TANA TORAJA

Penolakan terhadap rencana proyek geothermal di wilayah Bittuang kembali menguat. Generasi Bittuang dan masyarakat di sekitarnya menyampaikan pernyataan sikap resmi yang menegaskan penolakan total terhadap proyek tersebut.

Dan dinilai mengancam ruang hidup, sumber air, pertanian, serta kelestarian lingkungan kawasan yang selama ini menjadi hulu ekosistem penting di Toraja.
Dalam pernyataan sikap yang beredar luas pada Rabu (25/2/2026),

warga menegaskan bahwa proyek geothermal bukan hanya berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis, tetapi juga mengancam masa depan generasi penerus.

Menolak Proyek Geothermal yang Dinilai Mengancam Hulu Sungai dan Pertanian Dalam poin pertama sikap, warga menolak segala bentuk aktivitas maupun rencana eksplorasi geothermal.

Mereka menilai Bittuang adalah kawasan vital yang menyimpan sumber air, lahan pertanian produktif, dan ruang hidup yang tidak boleh dialih fungsikan secara serampangan.

Masyarakat juga menegaskan bahwa dampak pengeboran geothermal berpotensi mengganggu kestabilan tanah, kualitas air, dan keberlanjutan pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan warga di wilayah tersebut.

Bittuang Adalah Tanah Leluhur, Bukan Wilayah Kosong
Warga mengingatkan bahwa Bittuang bukan sekadar titik administratif dalam Kabupaten Tana Toraja, melainkan tanah adat yang menjadi warisan leluhur dan harus dijaga untuk generasi mendatang.

“Ini ruang hidup dan identitas kami. Bittuang bukan tanah kosong untuk dieksploitasi,” tegas salah satu perwakilan Generasi Bittuang dalam deklarasi tersebut.

Hulu Sungai Bernilai Strategis, Ekosistem Hutan Tak Boleh Rusak
Masyarakat menilai Bittuang berada di wilayah strategis sebagai hulu berbagai aliran sungai penting. Kerusakan di wilayah ini dapat memicu bencana berantai: mulai dari hilangnya sumber air, longsor, hingga terganggunya ekosistem hutan yang selama ini memiliki fungsi perlindungan bagi masyarakat luas.

Karena itu, warga meminta agar pemerintah menghentikan rencana eksplorasi yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Desakan Keras kepada Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan
Dalam pernyataannya, warga mendesak pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk:

1. Mengutamakan keselamatan rakyat,
2. Menjaga kelestarian lingkungan,

3. Melindungi keberlanjutan sosial dan budaya masyarakat Bittuang.
Warga menilai pembangunan semestinya tidak mengorbankan sumber air, tanah pertanian, dan masa depan anak cucu.

Gerakan Makin Menguat: “Bittuang Adalah Rumah, Bukan untuk Dieksploitasi” Di bagian akhir deklarasi, warga menyampaikan pesan emosional bahwa mereka berdiri bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk keberlanjutan kehidupan generasi selanjutnya.

“Bittuang adalah rumah. Bittuang bukan untuk dieksploitasi,” demikian pesan kuat yang disampaikan melalui spanduk dan seruan massa.

Tagar seperti Tolak Geothermal Bittuang, Selamatkan Bittuang, dan Jaga Hutan Jaga Air kini ramai digunakan masyarakat sebagai bentuk perlawanan terhadap proyek tersebut.

Dukungan Publik Meluas
Gelombang penolakan yang semakin besar ini menambah tekanan bagi pemerintah daerah dan pihak terkait untuk membuka ruang dialog yang lebih transparan dan partisipatif.

Masyarakat berharap suara mereka tidak diabaikan demi kepentingan investasi jangka pendek yang berpotensi mengorbankan lingkungan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah daerah mengenai sikap terbaru warga Bittuang, walaupun Bupati beberapa kali di hubungi via HP, tetap bungkam.

Namun tekanan publik diperkirakan akan terus meningkat seiring semakin banyaknya kelompok masyarakat yang menyatakan dukungan terhadap gerakan tersebut.

Bagikan :