SIDOARJO — Pesan itu disampaikan tanpa basa-basi. Di tengah lorong-lorong Sentra Kuliner Gajah Mada yang mulai kehilangan denyut keramaiannya, Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana, S.A.P. memilih datang langsung, menyaksikan sendiri bagaimana wajah salah satu pusat kuliner legendaris di Kota Delta itu kini memerlukan sentuhan pembenahan yang tidak lagi bisa ditunda.

Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Selasa (21/7) bukan sekadar agenda seremonial. Langkah tersebut menjadi bentuk keseriusan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam memastikan pusat ekonomi rakyat tetap hidup, aman, dan mampu bersaing di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.

Satu per satu sudut kawasan ditinjau. Mimik berdialog dengan para pedagang, mengamati kondisi bangunan, mengecek fasilitas umum, hingga memperhatikan penataan lapak yang dinilai belum mampu memberikan ruang usaha yang adil bagi seluruh pelaku UMKM.

Di balik aktivitas jual beli yang masih berlangsung, ia menemukan berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan segera. Bangunan terlihat kusam, sejumlah fasilitas kurang terawat, sementara beberapa bagian konstruksi mengalami retakan yang berpotensi membahayakan keselamatan pedagang maupun pengunjung.

“Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kasihan pelaku UMKM yang setiap hari menggantungkan penghasilannya di sini. Penataan harus segera dilakukan agar tempat ini menjadi lebih layak, aman, nyaman, sekaligus mampu menarik lebih banyak pengunjung,” tegas Mimik di sela-sela peninjauan.

Sorotan lain yang mengemuka adalah tata letak lapak pedagang. Menurutnya, penyebaran kios yang tidak proporsional menyebabkan sebagian pelaku usaha, terutama yang berada di bagian belakang kawasan, kesulitan mendapatkan perhatian pengunjung.

Bagi Mimik, persoalan tersebut bukan hanya soal tata ruang, melainkan juga menyangkut keadilan ekonomi.

“Kalau pedagang yang berada di belakang terus sepi karena tidak terlihat pengunjung, tentu itu tidak adil. Penataan harus dipikirkan dengan baik supaya seluruh pedagang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” ujarnya.

Namun perhatian terbesar tertuju pada aspek keselamatan bangunan. Saat menemukan retakan pada salah satu pilar, Mimik langsung meminta agar dilakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh.

Ia mengingatkan bahwa risiko sekecil apa pun tidak boleh diabaikan.

“Kalau sampai ada bagian bangunan yang roboh lalu menimpa pedagang atau pengunjung, siapa yang bertanggung jawab? Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” katanya dengan nada serius.

Sidak tersebut sekaligus mempertegas bahwa pembangunan kawasan ekonomi rakyat tidak cukup hanya menghadirkan fasilitas, tetapi juga memastikan kualitas infrastruktur tetap terpelihara sehingga mampu memberikan rasa aman bagi seluruh pengguna kawasan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo, Amat Adi Subhan, menjelaskan Sentra Kuliner Gajah Mada memiliki luas sekitar 2.147 meter persegi. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo saat ini tengah menyiapkan program revitalisasi menyeluruh dengan konsep yang jauh lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan pelaku UMKM.

Menurut Amat, kawasan tersebut nantinya tidak hanya difungsikan sebagai pusat kuliner, tetapi juga akan dikembangkan menjadi sentra oleh-oleh khas UMKM Kabupaten Sidoarjo yang dilengkapi ruang pelatihan dan pembinaan usaha.

“Konsep yang kami siapkan bukan hanya sentra kuliner, tetapi juga menjadi sentra oleh-oleh UMKM Kabupaten Sidoarjo yang dilengkapi ruang kelas untuk pelatihan dan pembinaan pelaku UMKM. Perencanaannya sudah kami susun dan selanjutnya akan dibahas bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD),” jelasnya.

Transformasi tersebut diharapkan mampu mengangkat kembali Sentra Kuliner Gajah Mada sebagai salah satu destinasi ekonomi kreatif yang tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga pusat pengembangan kapasitas pelaku usaha lokal.

Harapan serupa datang dari para pedagang yang telah bertahun-tahun menggantungkan mata pencahariannya di kawasan tersebut.

Ali Sabana, penjual sop buntut yang telah lama berjualan di Sentra Kuliner Gajah Mada, mengaku optimistis apabila revitalisasi benar-benar direalisasikan.

Menurutnya, kejayaan sentra kuliner itu pernah terasa ketika berbagai kegiatan hiburan rutin digelar. Live music, senam pagi setiap akhir pekan, hingga berbagai aktivitas masyarakat terbukti mampu mendatangkan ribuan pengunjung sekaligus meningkatkan omzet pedagang.

“Alhamdulillah kalau memang akan dikembangkan. Semoga semakin bagus dan ramai lagi seperti dulu. Dulu ada live musik dan setiap Minggu pagi ada senam yang sangat membantu penjualan kami. Mudah-mudahan nanti bisa dihidupkan kembali,” harap Ali.

Lebih dari sekadar membenahi bangunan, revitalisasi Sentra Kuliner Gajah Mada diharapkan menjadi momentum menghidupkan kembali denyut ekonomi kerakyatan di pusat Kota Sidoarjo.

Penataan kawasan, pemerataan ruang usaha, peningkatan kualitas fasilitas, serta jaminan keamanan menjadi fondasi penting agar sentra kuliner ini kembali menjadi magnet masyarakat sekaligus etalase produk-produk unggulan UMKM Kabupaten Sidoarjo.

Melalui sidak tersebut, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menegaskan komitmennya untuk mempercepat penataan dan revitalisasi kawasan, sehingga Sentra Kuliner Gajah Mada dapat bertransformasi menjadi pusat kuliner dan UMKM yang modern, aman, nyaman, tertata, serta mampu menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat.

Bagikan :