SIDOARJO — Mewujudkan masyarakat yang sehat tidak cukup hanya dengan menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas. Perubahan besar justru berawal dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang tumbuh di lingkungan keluarga dan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Berangkat dari semangat tersebut, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus memperkuat Gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai fondasi membangun kualitas hidup yang berkelanjutan.
Komitmen itu kembali ditegaskan melalui pelaksanaan verifikasi lapangan oleh Tim Verifikator Provinsi Jawa Timur di 12 desa sampling yang tersebar di enam kecamatan, Rabu (22/7).
Kegiatan ini bukan sekadar memenuhi tahapan evaluasi program, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai hidup bersih dan sehat telah benar-benar menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Enam kecamatan yang menjadi lokasi verifikasi meliputi Buduran, Waru, Sedati, Tanggulangin, Porong, dan Prambon. Adapun desa yang menjadi sampel antara lain Sidokepung, Wadungasih, Tambak Sumur, Tambak Sawah, Pabean, Sedati Agung, Ketapang, Putat, Candipari, Glagaharum, Jati Alun-alun, dan Temu.
Di setiap desa, tim melakukan observasi terhadap satu sekolah serta 25 kepala keluarga yang dipilih secara acak. Penilaian dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, serta pengecekan langsung terhadap implementasi lima pilar STBM, yakni stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakshmi Herawati Yuwantina, menegaskan bahwa keberhasilan program sanitasi tidak diukur dari kelengkapan dokumen administrasi, melainkan dari perubahan perilaku masyarakat yang berlangsung secara konsisten.
“Verifikasi ini bertujuan memastikan bahwa lima pilar STBM telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sanitasi yang baik berawal dari rumah.
Ketika setiap keluarga memiliki kesadaran menjaga kebersihan lingkungan, maka risiko berbagai penyakit dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat akan meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Menurutnya, kesehatan masyarakat merupakan hasil dari kolaborasi seluruh elemen, bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah.
Karena itu, keberhasilan STBM memerlukan keterlibatan aktif keluarga, satuan pendidikan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga seluruh komponen masyarakat.
“Budaya hidup bersih adalah investasi jangka panjang. Manfaatnya bukan hanya dirasakan hari ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Tim Verifikasi Lapangan Provinsi Jawa Timur, drg. Sulvy Dwi Anggraini, menjelaskan bahwa proses verifikasi dilakukan secara objektif melalui pemilihan rumah tangga secara acak. Pendekatan tersebut bertujuan memperoleh gambaran nyata mengenai implementasi STBM di tengah masyarakat.
Selain menilai kondisi sarana sanitasi, tim juga mengukur tingkat pemahaman masyarakat mengenai praktik hidup bersih, mulai dari cara mencuci tangan yang benar, pengelolaan makanan dan air minum yang higienis, pemilahan sampah rumah tangga, hingga memastikan keberadaan septic tank telah memenuhi standar kesehatan lingkungan.
“Kami ingin melihat bagaimana perilaku sehat benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang kami nilai bukan hanya fasilitasnya, tetapi juga kebiasaan masyarakat dalam menjaga sanitasi,” jelasnya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, capaian sanitasi bukan sekadar prestasi administratif, melainkan indikator meningkatnya kualitas peradaban masyarakat.
Keberhasilan meraih status Open Defecation Free (ODF) pada 2024 serta penghargaan STBM Award Tingkat Pratama Nasional, yang kemudian meningkat menjadi STBM Award Tingkat Madya Nasional pada 2025, menjadi bukti bahwa transformasi perilaku hidup sehat terus menunjukkan hasil yang positif.
Namun demikian, pemerintah memandang penghargaan bukanlah tujuan akhir. Tantangan terbesar justru memastikan agar budaya hidup bersih tetap terpelihara dan berkembang menjadi karakter masyarakat Sidoarjo di masa depan.
Melalui verifikasi lapangan ini, Pemkab Sidoarjo berharap semangat gotong royong dalam menjaga sanitasi semakin mengakar di tengah kehidupan masyarakat.
Sebab, lingkungan yang bersih bukan hanya mencerminkan kualitas kesehatan, tetapi juga menjadi cermin kemajuan sebuah daerah yang mampu membangun peradaban melalui kesadaran kolektif warganya.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, Sidoarjo menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten mencuci tangan dengan sabun, mengelola sampah dengan bijak, menjaga kebersihan air, dan menciptakan lingkungan yang sehat.
Dari rumah, lahir keluarga yang sehat; dari keluarga, tumbuh masyarakat yang tangguh; dan dari masyarakat yang sehat, terbangun masa depan Kabupaten Sidoarjo yang semakin maju, inklusif, dan berkelanjutan.






