GRESIK — Sejarah mencatat, Indonesia lahir bukan hanya dari kekuatan pemimpin, melainkan persatuan rakyat yang mengesampingkan perbedaan demi satu cita-cita: merdeka, berdaulat, dan bermartabat.

Nilai luhur ini tetap menjadi fondasi, dan kini bersinar kembali di Perumahan Menganti Permai, RW 9, Desa Hulaan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Di tengah arus globalisasi dan budaya individualisme yang menguat, warga Menganti Permai mengambil jalan berbeda. Peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan gerakan sosial yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat dalam semangat gotong royong, persaudaraan, dan kepedulian.

Denyut Kebersamaan Tanpa Sekat

Sejak pagi, suasana hangat menyelimuti lingkungan. Anak-anak berlari antusias mengikuti lomba, orang tua menyemangati dengan bangga, pemuda Karang Taruna bekerja tanpa lelah, sementara ibu-ibu PKK dan relawan memastikan kegiatan berjalan tertib. Hadir tanpa sekat status sosial, semua menyatu dalam tujuan merayakan kemerdekaan lewat persatuan.

Lomba mengisi pipa bocor menjadi pembuka yang sederhana namun bermakna. Di balik permainan itu tersimpan filosofi mendalam: kemenangan tidak lahir dari kekuatan individu, melainkan kerja sama, komunikasi, disiplin, dan kepercayaan antarsesama—nilai asli yang menjadi ruh bangsa Indonesia.

Partisipasi Tinggi: Bukti Modal Sosial Kuat

Ketua RW 9 Menganti Permai, Riawan Syamsir (yang juga aktif sebagai Pengurus MAKI Jawa Timur dan Pengurus GRIB Jaya DPD Jawa Timur), menilai tingginya partisipasi warga sebagai bukti nyata kekuatan modal sosial dalam membangun lingkungan maju dan harmonis.

“Keberhasilan wilayah tak hanya diukur dari fisik, tapi kualitas hubungan warga yang saling peduli. Kegiatan ini tunjukkan kebersamaan masih budaya kita: anak belajar kerja sama, pemuda peduli, orang tua memberi teladan. Ini fondasi pembangunan bangsa,” ujar Riawan.

Keberhasilan ini tak lepas dari kreativitas Karang Taruna di bawah Firdaus—menghadirkan kegiatan sederhana namun bermakna, membangun interaksi sekaligus mencetak kader pemuda masa depan.

Sinergi juga terlihat dari peran Ketua Panitia Malikus, Pembina Karang Taruna Agus Maung, pengurus PKK, tokoh masyarakat, dan relawan yang bahu-membahu.

Menjaga Warisan Persatuan Menuju Indonesia Emas

Bagi Riawan, peringatan kemerdekaan adalah momen meneruskan perjuangan lewat tindakan nyata. Gotong royong, rasa hormat, dan persatuan wajib diwariskan agar tak tergerus zaman.

“Berharap kebersamaan ini jadi warisan. Bangsa besar adalah yang mampu menjaga persatuan dan bekerja bersama demi kepentingan umum,” tegasnya.

Menganti Permai sesungguhnya adalah cermin Indonesia. Di sini, Pancasila hidup dalam tindakan: saling bantu, menghargai, dan membangun masa depan bersama. Sebuah pesan bagi negeri: Indonesia tegak bukan hanya karena wilayah atau

Bagikan :